b374k
v10
today : | at : | safemode : ON
> / home / facebook / twitter / exit /
name author perms com modified label
Showing posts with label AL - Quran'ul Kharim. Show all posts
Showing posts with label AL - Quran'ul Kharim. Show all posts

Arkeolog Temukan 'Tulisan' Aneh di Kota Daud Jerusalem. Milik Yahudi atau Palestina? mahadewa rwxr-xr-x 0 10:01 PM

Filename Arkeolog Temukan 'Tulisan' Aneh di Kota Daud Jerusalem. Milik Yahudi atau Palestina?
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 10:01 PM
Label
Action
Tulisan atau sekadar torehan tanpa arti? Itu yang kini bikin pusing arkeolog yang menggali di Kota Daud (David) Jerusalem. Dalam satu ekskavasi baru-baru ini, arkeolog menemukan satu set torehan di atas batu. Umur torehan itu, diperkirakan, ribuan tahun lalu. Arkeolog mengklaim temuan ini penting. Mengapa?
Bentuk torehan itu cukup unik. Menyerupai huruf V dan terbalik-balik. Torehan ditemukan di salah satu struktur bangunan, yang disebut arkeolog sebagai lantai.Torehan dalamnya dua inci dengan panjang 20 inci.
Temuan ini unik, karenaini satu-satunya torehan berbentuk demikian yang pernah ditemukan arkeolog di Kota Daud, Jerusalem. Tak ada keterangan apapun terkait temuan ini.
"Torehan ini sangat aneh dan membuat kami penasaran. Saya tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya," kata arkeolog Eli Shukron.
Berdasarkan penanggalan relatif yang diambild ari serpihan keramik di sekitar lantai, diketahui bangunan ini telah digunakan sejak 800 tahun sebelum masehi.
Menurut arkeolog, temuan ini bertambah aneh karena konteksnya tak jelas. "Temuannya cukup besar dan berada tepat di sebelah kanan sumur kota Daud zaman dulu. Ini sepertinya penting," demikian arkeolog seperti dikutip Associated Press.
Di ruangan di dekat temuan itu, para arkeolog berhasil menemukan lem
penngan batu besar. Dari periodenya, kemungkinan lempengan ini berasal dari masa sebelum Israel tiba. Kemungkinan besar, seluruh kompleks bangunan yang sedang digali itu bukanlah kuil Yahudi.
Temuan ini cukup penting bagi Palestina dan Israel. Karena lokasinya berada di lahan yang terus disengkatakan. Israel mencaplok lahan itu ketika perang 1967. Namun hingga kini Palestina masih mengakui pemilik sah lahan. Penggalian arkeologi pun kontroversial, karena dilakukan oleh LSM Elad.
LSM ini erat hubungannya dari kelompok garis kanan Israel dan sangat pro permukiman atas Palestina. Saking bingungnya, arkeolog pun memajang foto temuan itu di Facebook untuk memancing minat masyarakat.
Apa sebenarnya arti torehan itu? Apakah berasal dari Palestina? Atau sebelum bangsa Yahudi datang menduduki? Anda mungkin tahu?

SUBHANALLAH!! Hafalan Alquran Dapat Mencegah Berbagai Penyakit [Must read] mahadewa rwxr-xr-x 0 9:54 PM

Filename SUBHANALLAH!! Hafalan Alquran Dapat Mencegah Berbagai Penyakit [Must read]
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 9:54 PM
Label
Action


Oleh Mudhofar Mustofa In Mahadewa-xp
Sebuah kajian baru membuktikan bahwa semakin banyak hafalan seseorang terhadap Al-Qur'an Al-Karim, maka semakin baik pula kesehatan. Dr. Shalih bin Ibrahim Ash-Shani', guru besar psikologi di Universitas Al-Imam bin Saud Al-Islamiyyah, Riyadh, meneliti dua kelompok responden, yaitu mahasiswa/i Universitas King Abdul Abdul Aziz yang jumlahnya 170 responden, dan kelompok mahasis Al-Imam Asy-Syathibi yang juga berjumlah 170 responden.
Peneliti mendefinisikan kesehatan psikologis sebagai kondisi dimana terjadi keselarasan psikis individu dari tiga faktor utama: agama, spiritual, sosiologis, dan jasmani. Untuk mengukurnya, peneliti menggunakan parameter kesehatan psikis –nya Sulaiman Duwairiat, yang terdiri dari 60 unit.
Penelitian ini menemukan adanya korelasi positif antara peningkatan kadar hafalan dengan tingkat kesehatan psikis, dan mahasiswa yang unggul di bidang hafalan Al-Qur'an itu memiliki tingkat kesehatan psikis dengan perbedaan yang sangat jelas.
Ada lebih dari tujuh puluh kajian, baik Islam atau asing, yang seluruhnya menegaskan urgensi agama dalam meningkatkan kesehatan psikis seseorang, kematangan dan ketenangannya. Sebagaimana berbagai penelitian di Arab Saudi sampai pada hasil yang menegaskan peran Al-Qur'an Al-Karim dalam meningkatkan ketrampilan dasar siswa-siswa sekolah dasar, dan pengaruh yang positif dari hafalan Al-Qur'an untuk mencapai IP yang tinggi bagi mahasiswa.
Kajian tersebut memberi gambaran yang jelas tentang hubungan antara keberagamaan dengan berbagai bentuknya, terutama menghafal Al-Qur'an Al-Karim, dan pengaruh-pengaruhnya terhadap kesehatan psikisi individu dan kepribadiannya, dibanding dengan individu-individu yang tidak disiplin dengan ajaran-ajaran agama, atau tidak menghafal Al-Qur'an, sedikit atau seluruhnya.
Komentar terhadap Kajian:
Setiap orang yang menghafal sebagian dari Al-Qur'an dan mendengar bacaan Al-Qur'an secara kontinu itu pasti merasakan perubahan yang besar dalam hidupnya. Hafalan Al-Qur'an juga berpengaruh pada kesehatan fisiknya. Melalui pengalaman dan pengamatan, dipastikan bahwa hafalan Al-Qur'an itu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh pada seseorang, dan membantunya terjaga dari berbagai penyakit.
Berikut ini adalah manfaat-manfaat hafalan Al-Qur'an, seperti yang penulis dan orang lain rasakan:
1. Pikiran yang jernih.
2. Kekuatan memori.
3. Ketenangan dan stabilitas psikologis.
4. Senang dan bahagia.
5. Terbebas dari takut, sedih dan cemas.
6. Mampu berbicara di depan publik.
7. Mampu membangun hubungan sosial yang lebih baik dan memperoleh kepercayaan dari orang lain.
8. Terbebas dari penyakit akut.
9. Dapat meningkatkan IQ.
10. Memiliki kekuatan dan ketenangan psikilogis.
Karena itu Allah berfirman, "Sebenarnya, Al Qur'an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim." (QS Al-'Ankabut [29]: 49)
Ini adalah sebagian dari manfaat keduniaan. Ada manfaat-manfaat yang jauh lebih besar di akhirat, yaitu kebahagiaan saat berjumpa dengan Allah, memperoleh ridha dan nikmat yang abadi, mendapatkan tempat di dekat kekasih mulia Muhammad Saw

Kisah Tentang Pendeta Roma Yang Masuk Islam mahadewa rwxr-xr-x 0 9:52 PM

Filename Kisah Tentang Pendeta Roma Yang Masuk Islam
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 9:52 PM
Label
Action
Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat serta salam tetap terlimpahkan atas Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti sunnahnya dan menjadikan ajarannya sebagai petunjuk sampai hari kiamat.

Sejarah Islam, baik yang dulu maupun sekarang senantiasa menceritakan kepada kita, contoh-contoh indah dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk, mereka memiliki semangat yang begitu tinggi dalam mencari agama yang benar. Untuk itulah, mereka mencurahkan segenap jiwa dan mengorbankan milik mereka yang berharga, sehingga mereka dijadikan permisalan, dan sebagai bukti bagi Allah atas makhluk-Nya.


Sesungguhnya siapa saja yang bersegera mencari kebenaran, berlandaskan keikhlasan karena Allah Ta’ala, pasti Dia Azza wa Jalla akan menunjukinya kepada kebenaran tersebut, dan dapat dianugerahkan kepadanya nikmat terbesar di alam nyata ini, yaitu kenikmati Islam. Semoga Allah merahmati Syaikh kami Al-Albani yang sering mengulang-ngulangi perkataan.

“Segala puji bagi Allah atas nikmat Islam dan As-Sunnah”.
Diantara kalimat mutiara ulama salaf adalah.:
“Sesungguhnya diantara nikmat Allah atas orang ‘ajam dan pemuda adalah, ketika dia beribadah bertemu dengan pengibar sunnah, kemudian dia membimbingnya kepada sunnah Rasulullah.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya”.
Inilah kalimat tauhid, kalimat yang baik dan kunci surga. Kalimat inilah stasiun pertama dari jalan panjang yang penuh dengan onak dan duri, kalimat taqwa bukanlah kalimat yang mudah bagi seseorang insan yang ingin menggerakkan lisannya untuk mengucapkannya, demikian juga ketika dia ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam. Karena, ketika seorang insan ingin mengeluarkannya dari hatinya yang paling dalam, maka dia harus mengetahui terlebih dahulu, bahwa kalimat itu keluar dengan seizin Allah Ta’ala.

Demikianlah yang dialami oleh Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah memerliharanya, meluruskannya diatas jalan keistiqomahan, serta menutup lembaran hidupnya diatas Islam-
Inilah dia yang akan menceritakan kepada kita, bagaimana dia meninggalkan agama kaumnya (Nasrani) menuju Islam, dan bagaimana dia telah mengorbankan kekayaan ayahnya serta kemewahan hidupnya, di suatu jalan (hakekat terbesar), demi mencari kebebasan akal dan jiwa.

Ibrahim (dulu bernama Danial) –semoga Allah memeliharanya, dan mengokohkannya diatas jalan keistiqomahan- menceritakan :

Saya adalah seorang lelaki dari keluarga Roma, seorang anak dari keluarga kaya, semasa kecil, saya hidup dengan kemewahan dan kemakmuran. Demikianlah, kulalui masa kecilku. Ketika masa remajapun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kemewahan bersama teman-temanku, ketika itu saya memiliki sebuah mobil mewah dan uang, sehingga saya bisa memiliki segala sesuatu dan tidak pernah kekurangan.

Akan tetapi sejak kecil, saya senantiasa merasa bahwa dalam kehidupan ini ada yang kurang, dan saya yakin bahwa ada sesuatu yang salah di dalam hidupku, serta suatu kekosongan yang harus kupenuhi, karena semua sarana kehidupan ini bukanlah tujuanku.

Saya mulai tertarik dengan agama, dan mulailah kubaca Injil, pergi ke gereja, serta kusibukkan diriku dengan membaca buku-buku agama Kristen. Dari buku-buku yang kubaca tersebut, mulai kudapatkan sebagian jawaban atas berbagai pertanyaannku, akan tetapi tetap saja belum sempurna

Dahulu saya bangun pagi setiap hari dan pergi ke pantai, saya merenungi laut sambil membaca buku-buku dan shalat Setelah dua bulan dari permulaan hidupku ini, saya merasa mantap bahwa saya tidak mampu terus menerus menjalani hidupku seperti biasanya setelah beragama. Ketika itu, saya mendatangi ayahku dan kukabarkan kepadanya bahwa saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengannya, saya juga pergi mendatangi ibu dan saudara-saudariku dan kukabarkan kepada mereka bahwa saya telah mengambil keputusan untuk meninggalkan mereka

Kemudian kusiapkan tasku lalu naik kereta tanpa kuketahui ke mana saya hendak pergi, hingga saya tiba di kota Polon, kemudian saya masuk ke Ad-Dir [1] disana, lalu naik gunung yang tinggi. Saya menetap di gunung selama kira-kira sebulan, saya tidak berbicara dengan siapapun, saya hanya membaca dan beribadah.

Sekitar tiga tahun, saya senantiasa berpindah-pindah dari satu Ad-Dir ke Ad-Dir yang lain, saya membaca dan beribadah, kebalikannya para pendeta yang tidak bisa meninggalkan Ad-Dir mereka, karena saya tidak pernah memberikan janji untuk menjadi seorang pendeta di suatu Ad-Dir tertentu, dan janji tersebut akan menghalangiku untuk keluar masuk darinya.

Setelah itu, saya memutuskan untuk berkelilng ke berbagai negeri, maka saya memulai perjalanan panjangku dari Italia melalui Slovania, Hungaria, Nimsa, Romania, Bulgaria, Turki, Iran, Pakistan, dari sana menuju India. Semua perjalanan ini saya tempuh melalui jalur darat. Saya mendengar suara adzan di Turki, dan saya sudah pernah mendengarnya di Kairo (Mesir) pada perjalananku sebelumnya, akan tetapi kali ini sangat terkesan, sehingga saya mencintai

Dalam perjalanan pulang, saya bertemu dengan seorang muslim Syi’ah di perbatasan Iran dan Pakistan, dia dan temannya menjamuku dan mulai menjelaskan kepadaku tentang Islam versi Syi’ah. Keduanya menyebutkan Imam Duabelas dan mereka tidak menjelaskan kepadaku tentang Islam dengan sebenarnya, bahkan mereka memfokuskan pada ajaran Syi’ah dan Imam Ali Radhiyallahu ‘anhu, serta tentang penantian mereka terhadap seorang Imam yang ikhlas, yang akan datang untuk membebaskan manusia.

Semua diskusi tersebut sama sekali tidak menarik perhatianku, dan saya belum mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaanku dalam rangka mencari hakekat kebenaran. Orang Syi’ah itu menawarkan kepadaku untuk mempelajari Islam di kota Qum, Iran, selama tiga bulan tanpa dipungut biaya, akan tetapi saya memilih untuk melanjutkan perjalananku dan kutinggalkan mereka.

Kemudian saya menuju India, dan ketika saya turun dari kereta, pertama yang kulihat adalah manusia yang membawa kendi-kendi di pagi hari sekali dengan berlari-lari kecil menuju kedalam kota, maka kuikuti mereka dan saya melihat mereka berthowaf mengelilingi sapi betina yang tebuat dari emas, ketika itu saya sadar bahwa India bukanlah tempat yang kucari.

Setelah itu, saya kembali ke Italia dan dirawat di rumah sakit selama sebulan penuh, hampir saja saya meninggal dikarenakan penyakit yang saya derita ketika di India, akan tetapi Allah telah menyelamatkanku, Alhamdulillah.

Saya keluar dari rumah sakit menuju rumah, dan mulailah saya berfikir tentang langkah-langkah yang akan saya ambil setelah perjalanan panjang ini, maka saya memutuskan untuk terus dalam jalanku mencari hakekat kebenaran. Saya kembali ke Ad-Dir dan mulailah kujalani kehidupan seorang pendeta di sebuah Ad-Dir di Roma. Pada waktu itu saya telah diminta oleh para pembesar pendeta disana untuk memberikan kalimat dan janji. Pada malam itu, saya berfikir panjang, dan keesokan harinya saya memutuskan untuk tidak memberikan janji kepada mereka lalu kutinggalkan Ad-Dir tersebut.

Saya merasa ada sesuatu yang mendorongku untuk keluar dari Ad-Dir, setelah itu saya menuju Al-Quds karena saya beriman akan kesuciannya. Maka mulailah saya berpergian menuju Al-Quds melalui jalur darat melewati berbagai negeri, sampai akhirnya saya tiba di Siria, Lebanon, Oman dan Al-Quds, saya tinggal disana seminggu, kemudian saya kembali ke Italia, maka bertambahlah pertanyaan-pertanyaanku, saya kembali ke rumah lalu kubuka Injil.

Pada kesempatan ini, saya merasa berkewajiban untuk membaca Injil dari permulaannya, maka saya memulai dari Taurat, menelusuri kisah-kisah para nabi bani Israel. Pada tahap ini mulai nampak jelas di dalam diriku makna-makna kerasulan hakiki yang Allah mengutus kepadanya, mulailah saya merasakannya, sehingga muncullah berbagai pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya, saya berusaha menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut dari perpustakaanku yang penuh dengan buku-buku tentang Injil dan Taurat.

Pada saat itu, saya teringat suara adzan yang pernah kudengar ketika berkeliling ke berbagai negeri serta pengetahuanku bahwa kaum muslimin beriman terhadap Tuhan yang satu, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Dan inilah yang dulu saya yakini, maka saya berkomitmen : Saya harus berkenalan dengan Islam, kemudian mulailah ku-kumpulkan buku-buku tentang Islam, diantara yang saya miliki adalah terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Italia, yang pernah saya beli ketika berkeliling ke berbagai negeri.
Setelah kutelaah buku-buku tersebut, saya berkesimpulan bahwa Islam tidak seperti yang dipahami oleh mayoritas orang-orang barat, yaitu sebagai agama pembunuh, perampok dan teroris. Akan tetapi yang saya dapati adalah Islam itu agama kasih sayang dan petunjuk, serta sangat dekat dengan makna hakiki dari Taurat dan Injil.

Kemudian saya putuskan untuk kembali ke Al-Quds, karena saya yakin bahwa Al-Quds adalah tempat turunnya kerasulan terdahulu, akan tetapi kali ini saya menaiki pesawat terbang dari Italia menuju Al-Quds. Saya turun di tempat turunnya para pendeta dan peziarah dibawah panduan hause bus Armenia di daerah negeri kuno. Di dalam tasku, saya tidak membawa sesuatu kecuali sedikit pakaian, terjemahan Al-Qur’an, Injil dan Taurat, kemudian saya mulai membaca lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi, saya membandingkan kandungan Al-Qur’an dengan isi Taurat dan Injil, sehingga saya berkesimpulan bahwa kandungan Al-Qur’an sangat dekat dengan ajaran Musa dan Isa ‘Alaihis salam yang asli

Selanjutnya saya mulai berdialog dengan kaum muslimin untuk menanyakan kepada mereka tentang Islam, sampai akhirnya saya bertemu dengan sahabatku yang mulia Wasiim Hujair, kami berbincang-bincang tentang Islam. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman, mereka menjelaskan kepada saya tentang Islam. Setelah itu, saudara Wasiim mengatakan kepadaku bahwa dia akan mengadakan suatu pertemuan antara saya dengan salah seorang da’i dari teman-temannya para da’i.

Pertemuan itu berlangsung dengan saudara yang mulia Amjad Salhub, kemudian terjadilan perbincangan yang bagus tentang agama Islam. Diantara perkara yang paling mempengaruhiku adalah kisah sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, karena didalamnya ada kemiripan dengan ceritaku tentang pencarian hakekat kebenaran.

Kami berkumpul lagi dalam pertemuan yang lain dengan saudara Amjad beserta teman-temannya, diantaranya Fadhilatusy Syaikh Hisyam Al-Arif Hafidhohullah, maka berlangsunglah dialog tentang Islam dan keagungannya, kebetulan ketika itu saya memiliki beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh Syaikh.
Setalah itu, saya terus menerus berkomunikasi dengan saudara Amjad yang dengan sabar menjelaskan jawaban atas mayoritas pertanyaan-pertanyaannku. Pada saat seperti itu di depan saya ada dua pilihan, antara saya mengikuti kebenaran atau menolaknya, dan saya sama sekali tidak sanggup menolak kebenaran tersebut setelah saya meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.

Pada saat itu juga, saya merasakan bahwa waktu untuk mengucapkan kalimat tauhid dan syahadat telah tiba. Ternyata tiba-tiba saudara Amjad mendatangiku bertepatan dengan waktu dikumandangkannya adzan untuk shalat dhuhur. Waktu itu benar-benar telah tiba, sehingga tiada pilihan bagiku kecuali saya mengucapkan.
“Asyhadu An Laa Ilaha Illallahu Wa Anna Muhammadan Rasulullah”
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya.

Maka serta merta saudara Amjad memeluku dengan pelukan yang ramah, seraya memberikan ucapan selamat atas ke-Islamanku, kemudian kami sujud syukur sebagaimana ungkapan terima kasih kepada Allah atas anugerah nikmat ini. Kemudian saya diminta mandi [2] dan berangkat ke Masjid Al-Aqsho untuk menunaikan shalat dhuhur.

Di tempat tersebut setelah shalat, saya menemui jama’ah shalat dengan syahadat, yaitu persaksian kebenaran dan tauhid yang telah Allah anugerahkan kepadaku. Setelah saya mengetahui bahwa siapa saja yang masuk Islam wajib baginya berkhitan, maka segala puji dan anugerah milik Allah, saya tunaikan kewajiban berkhitan tersebut sebagai bentuk meneladani bepaknya para nabi, yaitu Ibrahim Alaihis sallam yang melakukan khitan pada usia 80 tahun.[3]

Itulah diriku, saya telah memulai hidup baru dibawah naungan agama kebenaran, agama yang penuh dengan kasih sayang dan cahaya. Saya senantiasa menuntut ilmu agama dari kitab Allah Ta’ala dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) umat ini, dari kalangan para sahabat Radhiyallahu ‘anhum beserta siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Segala puji bagi Allah atas anugerah Islam dan As-Sunnah.
[Dialihbahasakan oleh Abu Zahro Imam Wahyudi Lc dari majalah Ad-Da’wah As-Salafiyah – Palestina edisi Perdana, Muharram 1427H halaman 21-24]
[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Vol 5 No 3 Edisi 27 - Shafar 1428H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Jl Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya]
__________
Foote Note
[1]. Ad-Dir = Istilah untuk gereja yang terpencil di pedalaman.
[2]. Sebagaimana hadits Qoish bin Ashim, beliau menceritakan : “ Ketika beliau masuk Islam. Rasulullah memerintahkannya untuk mandi dengan air yang dicampur bidara” [HR An-Nasari, At-Tummudzi dan Abu Daud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa no. 128]
[3]. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ibrahim berkhitan ketika umur 80 tahun dengan “Al-Qoduum” (nama alat atau tempat)” [HR Al-Bukhari 3356 dan Muslim 2370]

Memilih Wanita Teladan mahadewa rwxr-xr-x 0 3:00 AM

Filename Memilih Wanita Teladan
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 3:00 AM
Label
Action
https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/418116_337117392996394_227783793929755_964756_1236182304_n.jpg
Kali Ini Mahadewa memberikan sebuah cerita tentang memilih akhwat yang tak hanya memandang luarnya saja.
Cekidot>>><<<

Ada dua orang sahabat" yang sedang dilanda asmara' ( Cinta )
Mereka bercerita tentang prihal kelebihan kekasihnya'..

Si A bercerita' akan kemolekan' dan keelokan tubuh sang wanita' ..

Dan B. bercerita akan kesantunannya'... kekasihnya'..

Lalu mereka bedebat akan perbeda'an penilai'an terhadap kekasih mereka'..

si A. Berkata bagaimana mungkin kamu mencintai wanita yang seperti itu' hanya mata yang kamu lihat dan suara yang tak tau bagaimana bentuk bibirnya ?

si B pun mempertanyakan prihal kekasih si A' ..
Betapa kamu membiarkan semua mata menzinai kemolekan kekasihmu" yang mana itu akan menimbulkan syahwat"..

keduanya melakukan pembela'an atas tambatan hatinya'
Si A. berkata ' meskipun ia begitu membuka aurat tapi aku mendapatkan kepastian akan seleraku"..

Dan tentulah si B. pun membela kekasihnya dengan berkata meskipun aku tak melihat seperti apa yang kamu lihat ' namun aku dapat merasakan ketulusan cinta kasihnya padaku"..

Tanpa mereka sadari ada kehadiran seorang yang bijak yang mendengarkan prihal perdebatan mereka'...

Dan ia bertanya' pada keduanya' apakah kalian mau perment"..
Dan serempak dijawab keduanya ' sangat mau"..

Seorang yang bijak mengeluarkan dua buah perment.
Yang satu di buka bungkusnya" satunya lagi dibiarkan'..
Lalu dilemparkan dihadapan mereka'..Hingga mereka memperebutkan yang masih terbungkus rapi"..

Dan sorang yang bijak berkata"
Itulah satu cara ' kaum muslim. memilih calon mempelainya'..
seraya berlalu meninggalkan keduanya"

##Untuk mereka yang menganggap
Kecantikan adalah segalanya!

Menembus Jalan Pintu Surga mahadewa rwxr-xr-x 0 12:37 AM

Filename Menembus Jalan Pintu Surga
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 12:37 AM
Label
Action
Subhanallah setelah liat treet di kaskus tadi mahadewa-xp jadi terinpirasi buat sebuah postingan bertemakan Jalan pintu Surga.http://moslemshared.files.wordpress.com/2011/03/kaligrafi-muhammad2.jpg"Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti…”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).

Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen).
Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).
Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم

“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.
Maka beliau pun menjawab,

“Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).
Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).
Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,
لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل

“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).

Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini,
“Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.”Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi.
Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31).
Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, ”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, ”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap (sesama) makhluk-Nya.” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, hal. 102).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.”(HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma).

Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwakebaikan gerak-gerik anggota badan manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya. Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik seluruh anggota badannya.
Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hal. 93).
An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).
Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu… Allahul muwaffiq

Ketika Ayat-Ayat AL-QURAN Bicara mahadewa rwxr-xr-x 0 12:35 AM

Filename Ketika Ayat-Ayat AL-QURAN Bicara
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 12:35 AM
Label
Action
Hari ini, bahkan sejak kemarin sebenarnya, informasi yang hangat dibicarakan masih seputar gempa , bantuan, dan evakuasi di Sumbar yang memasuki hari ke-5. Namun, diantara berita-berita yang selama lima hari itu dominan, ada juga selentingan menarik kalau gempa di Sumbar isyaratnya tersurat dalam Al Qur’an. Menurut Eramuslim Dot Com, mula-mula berita ini beredar di jejaring SMS. Kemudian masuk ke milis, dan akhirnya Facebook.

Kemarin, temen saya antusias menanyakan tentang QS 17:16 yang tak lain adalah gempa Sumbar tanggal 30-9-2009. Obrolan lintas jejaring ini kemudian diperkuat dengan munculnya berita yang sama di Okezone Dot Com.

Tiga ayat Al Qur’an yang dibincangkan menyangkut waktu kejadian gempa Bumi di Sumbar tanggal 30-September-2009. Meskipun satu ayat sebenarnya tidak tepat benar menggambarkan waktu gempa kedua di Sumbar yang tercatat oleh bmkg.go.id pukul 17:38:52 bukan 17:58. Tiga ayat yang dibincangkan sehubungan dengan bencana alam itu adalah :

17.16 (QS. Al Israa’ ayat 16): “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”


17.58 (QS. Al Israa’ ayat 58): “Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).”


8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.”

Secara umum, tiga ayat ini memang bernuansa peringatan atas terjadinya suatu peristiwa yang berhubungan dengan kehancuran suatu kaum. Lengkap dengan penyebabnya yang bermuara pada bergolaknya hawa nafsu manusia sehingga menjadi lalai, alpa dan lupa diri. Kalau mau langsung berhubungan dengan sebab seperti gempa bumi, mungkin yang cocok adalah surat no 99 yaitu Al Zalzalah, ayat 1,2,3 dan surat no 56 Al Waqiah ayat 1,2,3 juga.

Penomoran surat dan ayat yang bersesuaian dengan kejadian gempa di Sumbar dan Jambi, kecuali QS 17:58, nampak seperti suatu “kebetulan”. Akan tetapi, kalau di telisik lebih jauh, apalagi kalau kita yakin bahwa setiap peristiwa tertulis di Lauh Mahfuz, maka tidak perlu diherankan. Keheranan kita umumnya mungkin karena kita tak pernah membacanya, atau tidak pernah menduga sebelumnya kaitan peristiwa apa sebenarnya yang dilukiskan oleh ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Kini, dengan bukti nyata (silahkan baca surat al-Bayyinah QS 98), kecocokan dan akurasi yang mengagumkan mungkin saja akan menyebabkan sebagian dari kita sebagai Umat Islam akan semakin yaqin atau malah terjebak dalam dilema logika serba kebetulan. Pertanyaannya, benarkah peristiwa dan perujukkan kepada nomor surat dan ayat Al Qur’an itu suatu kebetulan?

Untuk menguraikannya, saya memulainya dengan cara yang sederhana dengan membaca susunan nomor surat dan ayat itu secara vertikal dan horisontal. Kenapa vertikal dan horisontal? Ini erat kaitannya dengan fungsi Al Qur’an itu sendiri sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia supaya mempunyai hubungan yang harmonis secara vertikal yaitu dengan Pencipta Makhluk dan horisontal yaitu dengan makhluk lainnya (manusia maupun alam, serta makhluk bukan manusia).

Uraiannya akan saya batasi hanya pada nomor surat dan ayat saja, belum sampai pada jumlah huruf dan nilai al-Jumalnya. Nilai al-Jumal adalah nilai huruf Arab satu persatu , kata per kata , yang mengikuti hisab al-Jumal atau Gematria huruf Arab. Ilmu ini sebenarnya peninggalan Jabr Ibn Hayyan (721 – 815 M), seorang ahli kimia generasi awal Islam. Ia dikenal di Eropa sebagai Geber dan diakui sebagai Bapak Kimia Modern.

A-Jumal Huruf Arab
A-Jumal Huruf Arab

Kalau kita urutkan nomor surat dengan nomor surat , dan nomor ayat dengan nomor ayat, maka jumlahan nomor surat dan jumlahan nomor ayat akan menghasilkan bilangan 168:

No Surat : 17+17+8=42

No Ayat : 16+58+52=126

42+126=168

168 adalah nilai Al-Jumal dari lafaz Bismillah.

Ba=2, Sin=60, Mim=40, Alif=1, Lam=30,Lam=30,ha=5

Dalam arah Horisontal, bilangan No Surat dan Ayat Dijumlahkan mejadi :

17+16=33, 17+58=75, 8+52=60

Jumlah semuanya : 33+75+60=168

Kalau kita kalikan maka

42×126=5292

Dengan menggunakan kaidah 2-2 maka didapat bilangan

139 dan 95 yang jumlahnya 234

234 tidak lain adalah jumlah kata maghfirah di dalam Al Qur’an.

Kalau kita jumlahkan mendatar ke arah kanan, diperoleh bilangan

52 + 92=144=12×12

Susunan 12 dan 12 tidak lain kalimat Syahadat. Jadi, komposisi 3 ayat tersebut menyiratkan semesta kehidupan umat manusia dalam sistem kehidupan yang sebenarnya penuh perubahan mendadak , sangat dinamis. Manusia harus siap menghadapi hal itu dengan segala daya dan upaya yang ada padanya. Baik dengan pengetahuan lahir maupun batin. Dengan pengetahuan lahir tentunya dengan sistem desimal dan huruf, geometri dan ilmu lainnya. Dengan pengetahuan batin maka realisasinya adalah shalat 5 waktu ditambah sunnah selama sehari dan semalam yang nilainya 51 rakaat.

Nilai 51 ini diperoleh jika kita jumlahkan ke arah luar dari bilangan 5292 dengan pemenggalan di posisi 2 dijit atau 2-2 yaitu :

25+92=117, 168-117=51

Jadi, dalam menyikapi perubahan besar tersebut (yang berujung pada takdir baik atau buruk), dimana pengaruh karakter manusia mendominasi akibat-akibat terbaik maupun terburuknya, kita harus mempunyai dua pengetahuan. Yaitu pengetahuan lahir untuk berhubungan secara horisontal dan pengetahuan batin untuk berhubungan dengan Kemahakuasaan Allah SWT sebagai al-Haqq, dimana Dia adalah satu-satunya yang memiliki perintah dan wewenang dalam segala ciptaan, dengan rahmat dan ampunannya.

Hal ini jelas tersirat secara numerik dari nilai 168, 329 (al-Rahmaan), dan 289 (al-Rahim, perhatikan 28 adalah tenggang waktu dari gempa Tasikmalaya tanggal 2-9 ke gempa Sumbar 30-9 yaitu 28 hari di bulan ke-9 atau 289 yang emrupakan al-Jumal AL-RHYM). Jumlah ketiganya adalah nilai al-Jumal dari kalimat Basmalah sebagai pembuka Surat 2-2 alias Al-Fatihah.

Sifat Rahmaan Allah telah muncul dalam manusia Indonesia dengan berbagai bentuk bantuan ketika menyikapi musibah berupa takdir buruk. Bahkan sejak peristiwa besar Aceh tahun 2004 yang lalu, kita melihat bagaimana antusiasnya manusia menampilkan Rahmat Ilahiyah.

Al-Rahiim Allah merupakan bentuk ampunan yang hanya dimiliki oleh Allah semata. Sehingga dengan ampunan ini kita wajib mendoakan yang meninggal maupun yang selamat supaya kontinuitas kehidupan (di Indonesia) diteruskan dengan kesadaran yang lebih luhur. Kesadaran itu tentunya erat kaitannya dengan kesadaran baru sebagai umat manusia yang benar-benar eling, khususnya Umat Islam, dimana kausalitas dari perbuatan buruk dan baik karena lalai dan alpa maupun dosa, cepat atau lambat akan memberikan dampak yang nyata dalam kehidupan di Bumi. Kerusakan lingkungan, kemewahan berlebihan, maupun perbuatan yang tidak menunjukkan keselarasan dengan hukum alam akan memberikan konsekuensi yang tidak dapat ditolak. Hal ini menegaskan bahwa ketika kita berhubunagn dengan alam, maka akan berlaku “terjadilah apa yang akan terjadi”. Berbeda dengan hubungan antara manusia dengan Allah SWT yang lebih longgar, bahkan manusia cenderung bebas untuk memilih namun tanggung jawab ada di masing-masing diri.

Demikian juga hubungan antara manusia dengan manusia yang lebih kompromistis. Tapi dengan alam, jangan main-main, manusia akan dilibas oleh alam ketika mengabaikan karakter dan perilakunya. Apalagi sampai mengubah atau megganggu keseimbangannya. Karena itu, dalam setiap peristiwa seluruh kejadian mempunyai jalinan yang erat kaitannya dengan bagaimana kita berperilaku, baik kepada manusia, alam, makhluk lainnya, maupun adab dan perilaku kita sebagai Umat Islam di hadapan Allah SWT.

Kebenaran Bukti AL-QURAN Tentang Orang Yang Memahat Gunung mahadewa rwxr-xr-x 0 12:31 AM

Filename Kebenaran Bukti AL-QURAN Tentang Orang Yang Memahat Gunung
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 12:31 AM
Label
Action
Ada banyak mukjizat dalam Al Qur’an yang di tunjukan i Allah Maha Kuasa kepada kita tentang beberapa peristiwa sejarah yang ditemukan akhir-akhir ini dan tak seorang pun di saat Alquran turun sudah punya pengetahuan tentang hal ini … … … … … … ..
tehnik bangunan peradaban ”Tsamud” di tanah arab . mari kita lihat foto berikut yang menunjukkan sisa-sisa peradaban ini

Keajaiban di foto-foto ini adalah bahwa Al Qur’an memberitahu kami tentang orang-orang dari ”Tsamud” dalam deskripsi yang akurat dan bagaimana mereka membangun bangunan ini.

Allah swt berfirman:

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.. Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”.(QS. Al-A’raf-ayat 73-74)

26:141. Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul.
26:142. Ketika saudara mereka, Saleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?
26:143. Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,
26:144. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
26:145. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam
.26:146. Adakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman,
26:147. di dalam kebun-kebun serta mata air,
26:148. dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut.
26:149. Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin;
26:150. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;
26:151. dan janganlah kamu menaati perintah orang-orang yang melewati batas,
26:152. yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”

(QS. Surah Asy-Syu’ara Ayat 141-152).

Akhirnya, kita mengatakan bahwa teks-teks ini adalah bukti jelas bahwa ada keajaiban sejarah dalam Al-Qur’an.


Iman yang teguh tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus di cari di bina dan perkuat agar selalu Istiqomah.
cara yang terbaik ialah menyampaikan, mengucapkan secara langsung hal-hal yang menyangkut kekuasaan,keagungan kemuliaan Allah, membaca Kitabullah; mengkajinya , mentadabburi makna dan hukum-hukumnya, mengkaji sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengaetahui rician syariat darinya

KEINDAHAN DAN KESEMPURNAAN AL-QURAN mahadewa rwxr-xr-x 0 12:26 AM

Filename KEINDAHAN DAN KESEMPURNAAN AL-QURAN
Permission rw-r--r--
Author mahadewa
Date and Time 12:26 AM
Label
Action
Kitab Suci Al-Qur’an merupakan mutiara yang langka. Bagian luarnya adalah Nur, bagian dalamnya juga Nur, begitu pula bagian atas dan bawahnya adalah Nur semata serta Nur disetiap kata di dalamnya. Kitab ini merupakan taman ruhani yang rangkaian buahnya mudah dijangkau dan melalui mana mengalir banyak sungai. Semua bentuk kemaslahatan bisa ditemukan di dalamnya dan setiap obor penunjuk jalan dinyalakan daripadanya.
Nur Kitab ini telah menembus hatiku dan aku tidak akan mungkin memperolehnya dengan cara lain. Jika tidak ada Al-Qur’an maka aku tidak akan menemukan kegembiraan hidup.

Keindahannya jauh melampaui kecantikan seratus ribu Nabi Yusuf. Aku amat cenderung kepadanya dan meresapkan rahmatnya ke dalam hati. Kitab ini telah menghidupkan aku sebagaimana laiknya sebuah embrio dihidupi dan betapa indah pengaruhnya atas kalbuku. Kecantikannya telah menarik keluar jiwaku. Dalam sebuah kashaf dikemukakan kepadaku bahwa taman kesucian itu diairi oleh Al-Qur’an yang merupakan gelombang samudra air kehidupan. Barangsiapa yang meminum daripadanya akan menjadi hidup dan membawa kehidupan kepada manusia lainnya. (Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 545-546, London, 1984).
* * *
Sebutan Khataman Nabiyin yang dikenakan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. mengharuskan bahwa Kitab yang diwahyukan kepada beliau adalah juga kitab yang paling sempurna dibanding semua kitab-kitab samawi lainnya serta merangkum keseluruhan keluhuran ajaran ruhani. Ketentuannya adalah sebagaimana tingkat derajat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin dari sosok yang menerima wahyu Allah, begitu pulalah derajat kekuatan dan keagungan dari firman bersangkutan. Mengingat kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah dari tingkat yang paling luhur, yang tidak akan mungkin disamai atau dilampaui oleh orang lain, demikian jugalah derajat Kitab Suci Al-Qur’an yang keluhurannya tidak akan bisa dicapai oleh Kitab-kitab samawi terdahulu. Kemampuan dan kekuatan ruhani Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah yang tertinggi dari semuanya, dimana semua bentuk kesempurnaan telah mencapai puncaknya dalam diri beliau. Karena itu Kitab Suci Al-Qur’an yang diwahyukan kepada beliau adalah juga Kitab yang sempurna dimana keluhuran daripada mukjizat firman mencapai titik tertinggi di dalamnya.
Dengan demikian beliau itu adalah Khataman Nabiyin dan Kitab beliau menjadi Khatamal Kutub. Dari sudut pandang setiap aspek suatu firman Tuhan, Kitab Suci Al-Qur’an menempati derajat tertinggi. Kesempurnaan Kitab Suci Al-Qur’an bisa diamati dimana keajaiban rangkumannya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, baik dari segi keindahan komposisi, dari urutan pokok pembahasan, dari ajaran yang tercantum serta dari kesempurnaan buah ajarannya. Karena itulah Al-Qur’an tidak memerlukan padanannya dari sudut pandang apa pun, bahkan Kitab ini melontarkan tantangan umum memper¬tanyakan apakah ada yang mampu menyamainya dalam segi apa pun. Dari sudut mana pun manusia memilih untuk memandangnya, Kitab ini merupakan mukjizat. (Malfuzat, vol. II, hal. 36-37).
* * *
Kitab Suci Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang kapan pun tidak ada dan tidak akan pernah ada padanannya. Gerbang rahmat dan berkatnya selalu tetap terbuka serta tetap cemerlang dan nyata di setiap zaman sebagaimana keadaannya ketika di masa Hadzrat Rasulullah s.a.w.
Kiranya kita ada memperhatikan bahwa bicara seseorang itu umumnya sejalan dengan ketetapan hatinya. Tambah tinggi ketetapan hati, tujuan serta tekad si pembicara, begitu pulalah mutu dari hasil bicaranya. Wahyu samawi juga mengikuti pola yang sama. Bertambah tinggi ketetapan hati dari sosok yang menerima wahyu Ilahi maka akan bertambah tinggi juga nilai dari wahyu bersangkutan. Mengingat ruang lingkup dari ketetapan hati, kapasitas dan tekad Hadzrat Rasulullah s.a.w. memang sangat luas, maka wahyu yang turun kepada beliau juga bersifat sama. Tidak akan pernah ada lagi manusia yang bisa mencapai derajat ketetapan hati dan keberanian seperti beliau mengingat ajaran beliau tidak terbatas pada suatu kurun waktu atau bangsa tertentu saja sebagaimana halnya yang terjadi pada Nabi-nabi sebelum beliau.

Mengenai beliau yang dikemukakan sebagai sosok yang luhur ada terdapat dalam ayat:

“Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul kepada kamu sekalian”“. (S.7 Al-Araf:159)
serta ayat lain:

“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat”. (S.21 Al-Anbiya:108).
Siapakah yang dapat menyamai beliau dengan ruang lingkup kenabian dan maksud kedatangan yang demikian luasnya? Sekarang ini kalau pun ada salah satu ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepada seseorang, aku yakin bahwa ruang lingkup wahyu tersebut tidak akan seluas sebagaimana ketika diterima Hadzrat Rasulullah s.a.w. (Malfuzat, vol. III, hal. 57).
* * *
Kebenaran haqiqi yang berkaitan dengan agama dan semua ajaran tentang subyek Ketuhanan serta argumentasi konklusif yang mendukung kebenaran, bersama-sama keajaiban-keajaiban dan wawasan-wawasan sebagaimana terdapat di dalam Kitab Suci Al-Qur’an, semuanya itu berada di luar jangkauan kemampuan dan intelektual manusia untuk memperolehnya sendiri. Jika kita melihat ke masa sebelumnya, kita akan menemukan bahwa tidak ada ahli filosofi atau pun orang bijak yang mampu mengungkapkan semua pengetahuan yang terdapat di dalam Al-Qur’an tersebut. Justru sebaliknya, seluruh pengetahuan dan wawasan tersebut malah dikaruniakan kepada seorang yang sama sekali tidak terpelajar. Beliau tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah, atau membaca buku dan tidak juga berkawan dengan orang-orang bijak atau yang terpelajar. Beliau menjalankan kehidupannya di tengah-tengah suatu bangsa yang liar, dilahirkan dan dibesarkan di antara mereka serta berkawan dengan mereka. Bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang yang buta huruf merupakan hal yang demikian jelas sehingga tidak ada peneliti sejarah Islam yang tidak mengetahuinya. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 561-563, London, 1984).
 

Jayalah Indonesiaku © 2010 Mahadewa Grade Coorporation
VB (Vio b374k) Template design by p4r46hcyb3rn3t